Fiction: Pria Tak Banyak Kata Itu


Jam tanganku menunjukkan pukul 12.47 siang. Aku pun bergegas memasuki sebuah toko buku yang berada kira-kira 100 meter dari kampusku. Ketika aku membuka pintu toko tersebut, aku merasakan dingin AC yang ku rasa bisa mengobati lelahku seharian. Pak Surya berhenti membersihkan rak-rak buku dan tersenyum padaku. ‘Hari ini terasa melelahkan yaa?’ Rupanya Pak Surya tau aku sedang menganggap hari ini begitu berat. Melihatku terengah-engah, berkeringat, dengan rambut sebahuku yang diikat tak karuan, serta sebotol air mineral terselip di tas ransel hitamku.

‘Tugasku banyak. Printerku mendadak rusak. Aku bertemu ibu menyebalkan di dekat rumah. Komplit sudah hari indahku!’, gerutuku pada pak Surya. Pak Surya seperti biasanya hanya tersenyum mendengar celotehanku dan menghampiriku, ‘Taruh tas ranselmu yang berat itu, cari buku yang ingin kau cari, dan duduklah sebentar untuk mendinginkan pikiran.’ Aku pun mengiyakan saran baik dari pak Surya.

Aku langsung menuju rak ke dua dari pintu masuk. Aku mencari buku ringan seputar cara membuat aksesoris. Sekedar ingin menambah ilmu tentang hobiku yang satu itu. Aku duduk di kursi yang ada di dekat rak itu dan mulai melihat-ihat isi buku itu. Tak lama kemudian, pak Surya datang dan mengajakku mengobrol soal pencurian di mini market sebelah semalam. Pak Surya bercerita dengan serunya dan tanpa kusadari ternyata pak Surya mengajak ngobrol seseorang asing yang duduk di sampingku juga. Seorang pria berkaca mata yang tetap asyik membaca ketika pak Surya bercerita. ‘Menyebalkan!’ itu adalah kesan pertamaku pada orang itu. Wajahnya juga mirip dengan Teddy, teman sekampusku yang terkenal punya banyak selingkuhan. Jadi, kesanku berikutnya adalah ‘Sangat menyebalkan!’ Sesekali orang itu melempar senyum tipis atau mengangguk mendengar cerita pak Surya. Pak Surya yang sudah ku kenal sejak aku SMA merasa nyaman-nyaman saja pada respon orang itu. Tapi, sebagai orang yang dekat dengan pak Surya, aku merasa tersinggung. Aku selalu sebal dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Tingkah acuhnya itu seolah mengirimkan pesan singkat ke otakku ‘Aku hanya ingin membaca buku ini. Silahkan anda bercerita.’ Karena sibuk dengan perasaan sebalku, aku jadi tidak terlalu menangkap cerita pak Surya. Kejadian siang itu menambah hariku makin menyebalkan. Aku bertemu orang menyebalkan untuk ke dua kalinya. Aku pun memutuskan untuk membeli buku yang kupegang itu dan segera bergegas pulang ke rumah.

Ketika aku kembali ke toko buku pak Surya seminggu kemudian, aku kembali melihat orang itu duduk di kursi yang sama ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Aku jadi hafal kebiasaannya yang datang ke toko itu setiap malam minggu karena aku pun sering kesana setiap malam minngu. Sebulan kemudian, aku tak pernah melihatnya datang di malam minggu. Aku pernah terbersit pikiran untuk menanyakannya pada pak Surya. Tapi, dengan cepat ku urungkan niatku. 

Sampai akhirnya suatu hari, ketika aku menunggu bus di dekat kampus, seorang pria dengan kemeja putih menghampiriku dan berkata, ‘Pilih yang mana?’ Aku pun langsung merespon dengan hanya menegok dan mengernyitkan dahiku. Dia menyodorkan 2 botol minuman rasa buah-buahan padaku. Sontak aku kaget karena aku tau itu adalah pria menyebalkan yang sering aku lihat di toko buku pak Surya. ‘Maksudmu?’ aku bertanya. ‘Kamu mau yang rasa apa?’, dia berkata tanpa melihatku. Matanya sibuk kea rah jalan seolah mencari bus yang ditunggunya.
‘Nggak usah. Terima kasih.’, jawabku singkat.
‘Yakin? Ini memang buatmu. Kamu keliatan haus.’
Karena nadanya yang sepertinya sedikit memaksaku, aku pun memilih botol yang berwarna ungu. Rasa anggur. Dan aku mulai meminumnya. ‘Terima kasih yaa….’, ucapku.
‘Sama-sama.’, jawabnya singkat. Dia pun lalu pamit pergi karena bus yang ditunggunya sudah datang.

Hanya kejadian itu yang ku ingat baik sampai dengan detik ini. Cara pertama mengajakku berkenalan. Tanpa menanyakan nama. Begitu mengesankan di hati dan juga menyebalkan. Itu cuma kejadian singkat tentangnya. Sampai dengan detik ini aku tak pernah tau kenapa aku begitu mengagumi orang yang bahkan tak pernah berkata dan bertindak lembut padaku. Tapi, itu sudah membuatku enggan mengenal pria lain. Cuma dia yang selalu kucari ketika aku menyambangi toko buku pak Surya. Aku cukup mengingat baik kebiasaannya yang selalu mengungkapkan sesuatu secara ambigu. Tapi, aku tau apa maksudnya. Mengingatnya karena bicaranya yang sedikit tetapi banyak berbuat. Aku bahkan tak pernah tau dimana rumahnya dan bahkan namannya. Aku baru tau 3 bulan setelah perjumpaan awal dengannya kalau dia mempunyai nama yang indah untuk ku ingat, ‘Raditya’ Aku tau namanya itu dari buku yang dia pinjamkan padaku. Aku tau itu adalah caranya untuk memperkenalkan diri. Cara keduanya. Yang lagi-lagi dilakukannya tanpa banyak kata. Hingga 5 tahun setelah itu sebuah kesempatan yang tak sengaja dan tak diduga mempertemukan kami. Perasaan itu kembali teringat. Dia bersama seorang wanita manis. Istrinya.

Dan bagiku…tetap ada ruang di hati untuk dia yang telah membuatku pernah merasakan begitu tulusnya menyayangi seseorang. Bahkan, merelakannya berbahagia bersama orang yang dipilihnya.
(Inspired by a close friend’s story)

No comments:

Find Me on Instagram