Menikmati Alam di Salah Satu Surga Tersembunyi Indonesia, Teluk dan Pulau Kiluan, Lampung

Beberapa saat yang lalu, saya dan keluarga berlibur ke salah satu tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, Teluk dan Pulau Kiluan di Lampung. Kami tahu tempat ini dari sepupu kami yang ditugaskan bekerja di sana. Sekalian menengok sepupu kami itu, saya dan sepupu-sepupu yang lain serta satu ponakan kecil kami pergi ke Lampung dan berencana untuk menghabiskan beberapa hari di Teluk dan Pulau Kiluan tersebut.

Pulau Kiluan, Lampung.

Teluk dan Pulau Kiluan ini berada di Desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Tempat ini berlokasi sekitar kurang lebih 80 km dari Bandar Lampung dan bisa dijangkau melalui jalan darat di daerah pesisir barat Sumatra. Dari Jakarta, saya dan keluarga membutuhkan 2 jam perjalanan menuju Pelabuhan Merak dengan mobil pribadi. Dengan menggunakan kapal untuk menyeberangi Selat Sunda, kami membutuhkan 2 jam untuk sampai ke Pelabuhan Bakauheni. Sedangkan, dari Pelabuhan Bakauheni sampai Kota Bandar Lampung, kami membutuhkan waktu 3 jam perjalanan. Menurut saya, perjalanan dari ibu kota menuju Lampung tidak begitu melelahkan karena hanya membutuhkan setengah hari perjalanan dan relatif dekat.

Karena kami sampai Bandar Lampung siang menjelang sore, kami pun menginap semalam di rumah sepupu kami. Kami pikir perjalanan menuju Teluk Kiluan memang lebih nyaman dilakukan di pagi hari karena kami membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah perjalanan yang kami lalui dan agar dapat melanjutkan perjalanan kembali dengan kondisi dan stamina yang lebih baik. Berdasar informasi dari sepupu kami yang sebelumnya pernah ke sana dengan teman-temannya, perjalanan dari Bandar Lampung menuju Kiluan membutuhkan waktu 3-4 jam dengan kondisi jalanan yang tidak mulus.

Saya dan keluarga pun membuktikannya. Jalanan yang kami tempuh tak mudah dilalui tanpa persiapan yang baik. Beruntunglah kami memiliki sepupu yang sebelumnya pernah ke sana. Jadi, kami tahu apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan. Karena kami tahu jalanan yang akan dilalui tidah mulus dengan topografi daerah yang berbukit dan berlembah, kami memilih membawa mobil keluarga yang tinggi dan lebih mudah ketika melalui jalanan dengan tipe seperti ini. Karena kami tahu di sana tak banyak ada penginapan, beberapa hari sebelumnya kami sudah memesan penginapan melalui telepon. Ada baiknya juga mencari tahu detail keadaan di sana sebelum berangkat.

Saya rasa harus membutuhkan keterampilan mengemudi kendaraan bermotor yang baik untuk sampai ke sana. Karena belum begitu banyak kendaraan umum yang menjangkau daerah tersebut, jadi banyak yang mengendarai kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor untuk sampai ke sana. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, menyewa kendaraan bermotor beserta sopirnya bisa jadi pilihan. Tapi, pastikan sopirnya tahu rute menuju Kiluan. Karena nyatanya ada juga yang tidak tahu bagaimana menjangkau tempat ini. Walaupun jalanan menuju tempat ini cukup berat, saya terkesima dengan pemandangan selama perjalanan. Pantai, pegunungan, bukit, pasar tradisional, serta desa-desa yang masih kental dengan adat bisa dijumpai. Seperti kampung suku asli Lampung yang berbentuk panggung dan kampung masyarakat Bali yang dihiasi ornamen-ornamen khas Bali dengan gapura dan kuil di sekitarnya. Pemandangan seperti ini jarang saya temui di sekitar saya.  Tak jarang saya dan keluarga berhenti dan turun dari mobil sebentar untuk menikmati suasana di sana sambil berfoto tentunya.

Kiluan sebenanarnya sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing. Tapi, kini wisatawan domestik pun mulai banyak yang berdatangan ke Kiluan. Kiluan kini menjadi destinasi yang sedang tumbuh, berkembang, dan mulai diminati oleh pelancong dari dalam negeri. Ketenaran Teluk dan Pulau Kiluan ada seperti sekarang karena banyak orang yang mulai memposting cerita perjalanan dan foto tentang tempat ini di internet. Sesampainya di Kiluan, yang kami dapati memang desa kecil yang jauh dari keramaian. Tak banyak wisatawan yang berkeliaran di sana. Kami pun pergi menuju salah satu penginapan yang sudah kami pesan. Penginapan itu ada di salah satu sisi di tepi Teluk Kiluan. Jangan bayangkan penginapan di sini seperti hotel atau motel. Yang ada di sini hanyalah beberapa rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu dan beberapa kamar di rumah penduduk yang bersedia menyewakan untuk para pendatang. Jika ingin menginap di Pulau Kiluan, kita bisa menaiki kapal jukung (perahu nelayan tradisional yang sudah bermotor) untuk sampai di pulaunya dengan waktu sekitar 15 menit. Di Pulau Kiluan, ada gubuk yang disewakan bagi para pendatang. Bagi yang menginginkan mendirikan tenda di pulau juga bisa.

Saya bilang tempat ini memiliki kondisi yang serba minim, seperti terbatasnya akses kendaraan umum yang menjangkau tempat ini, jalanan yang tidak mulus, kondisi alam yang berbukit dan berlembah, terbatasnya air bersih, sinyal telepon seluler dan internet yang sulit, sedikitnya orang berjualan makanan dan kebutuhan sehari-hari, dan yang paling mengagetkan saya adalah terbatasnya listrik di sana. Dengan hanya 3-4 jam dari ibu kota provinsi, Desa Kiluan hanya memiliki 6 jam untuk mendapatkan listrik. Selebihnya, masyarakat di sana hidup tanpa listrik. Listrik menyala di sore menjelang malam. Di saat seperti ini, masyarakat memanfaatkan listrik yang ada untuk mengisi genset mereka. Ketika listrik mati, mereka pun menggunakan genset mereka untuk menunjang aktifitas mereka. Tak jarang masyarakat di sana hidup tanpa listrik dan hemat menggunakan genset untuk berjaga-jaga jikalau listrik padam dan tak menjangkau daerah mereka di hari itu. Dengan kondisi yang serba minim ini, banyak orang yang masih ingin ke sana atau kembali ke sana. Pastilah tempat ini istimewa.

Salah satu penginapan yang bisa dijumpai di Teluk Kiluan. Gambar diambil dari www.talkmen.com

Saya bisa melihat langsung teluk di depan saya dari penginapan yang saya dan keluarga tempati. Karena penginapan yang kami tinggali berbentuk panggung, air teluk pun mengaliri daratan di bawah penginapan kami. Untuk makan, saya dan keluarga memesan makanan pada pemilik penginapan yang tinggal di dekat penginapan kami. Karena air bersih sulit di dapat di sana, sebaiknya kita bisa berjaga-jaga untuk membawa galon air bersih untuk minum. Untuk mandi, kita bisa manfaatkan beberapa kamar mandi umum yang ada di sana.

Saya dan keluarga sampai di Desa Kiluan siang menjelang sore. Kami pun menikmati pemandangan yang ada sambil beristirahat. Menjelang malam, lampu mulai dinyalakan dan genset mulai diisi. Suasana malam di teluk begitu sunyi. Walaupun beberapa penginapan di sekitar kami dihuni pengunjung, mereka pun tak banyak membuat suara. Saya melihat beberapa orang duduk-duduk di tepian dermaga kecil di sekitar penginapan dan menikmati malam. Sama seperti saya dan keluarga. Saya dan keluarga menghabiskan malam dengan mengobrol. Belum sampai tengah malam, tiba-tiba lampu mati. Saya bertanya pada salah satu warga yang melintas mengapa lampu mati sementara lampu di desa seberang menyala. Dan ternyata memang begitulah kondisi di sana. 6 jam aliran listrik digunakan secara bergantian dengan desa seberang teluk. Saya pun harus rela tanpa penerangan. Menghabiskan malam dengan gelap gulita dan hanya mendapatkan pantulan sinar lampu dari desa seberang teluk. Suara percikan dan hempasan lembut air teluk terdengar mengalun. Begitu pun dengan derauan suara mesin genset dari desa seberang. Saat itu, seketika saya sadar betapa pemerataan di Indonesia belum berjalan dengan baik. Pada saat itu, saya seperti merasakan berada di Indonesia jaman dahulu atau bagian Indonesia yang sangat jauh dari pusat ibu kota, seperti di perbatasan dengan negara lain atau di pulau terluar dari Indonesia. 

Pemandangan malam di Teluk Kiluan. Hanya pendar cahaya dari desa seberang yang bisa terlihat.

Yang istimewa lagi dari Kiluan adalah atraksi lumba-lumba di laut/samudra lepas Kiluan. Pagi adalah saat yang paling tepat untuk bertemu dengan lumba-lumba. Karena menurut nelayan di sana, lumba-lumba banyak yang bermunculan di pagi hari. Ada dua jenis lumba-lumba yang bisa ditemui di sana. Yang pertama adalah lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba paruh panjang. Pagi hari sekitar jam 6 pagi, kami menyewa kapal jukung untuk sampai di tengah samudra lepas.  Satu kapal jukung bisa dinaiki oleh 4-5 orang saja. Perburuan untuk bertemu dengan lumba-lumba ini menurut saya sangat menegangkan. Tapi, saya yakin jika hal ini sangat menarik bagi orang yang mencintai alam dan tantangan. Saya yang sebenarnya takut untuk menaiki kapal kecil di tengah samudra ini terus merapal doa selama perjalanan. Walaupun kami sudah dibekali dengan life jacket, tapi ombak di pagi itu cukup menyeramkan bagi saya. Beberapa kali kami bertemu dengan ombak yang lebih tinggi dari kapal kami dan sempat harus bertukar posisi dengan yang lain karena tidak seimbang ketika sudah di tengah samudra. Daratan sudah tak lagi nampak. Saat itu lah saya sadar saya sudah berada di tengah samudra dan melihat beberapa kapal pun mulai menghentikan mesinnya seperti kapal milik kami. Kami pun diminta untuk tenang. Beberapa kawanan lumba-lumba mulai berdatangan. Di sinilah saat terbaik selama di Kiluan. Hal langka yang saya dapati dalam hidup. Melihat kawanan lumba-lumba yang berenang, meloncat, dan melakukan atraksi di depan saya dengan jarak yang sangat dekat. Yang tak lagi biasa adalah hal ini saya dapati di tengah samudra langsung. Walaupun perjalanan menuju tengah samudra begitu menegangkan buat saya, tapi saya senang. Butuh sekitar 2-3 jam untuk melakukan perburuan bertemu lumba-lumba ini.

Kelompok lumba-lumba yang datang mendekati para pengunjung. Gambar diambil dari www.tourwisatalampung.com

Setelah itu, saya dan keluarga singgah ke Pulau Kiluan sebelum kembali ke teluk. Pulau Kiluan ini seperti pulau pribadi. Pulau ini kecil. Saya bisa mengelilinya dengan waktu kurang dari satu jam. Di sana, saya dan keluarga bermain air sepuasnya. Karena pulau ini seperti pulau pribadi, kami tak ragu untuk mengekspresikan perasaan kami selama di sana, seperti mandi di pantai, berlarian, berteriak, dan berguling-guling di tepian pantai sepuasnya. Setelah itu, kami kembali ke teluk. Kami membersihkan diri kami dan beristirahat. Tak lama kemudian, sang pemilik penginapan mengajak kami mengunjungi satu pantai di dekat penginapan, Pantai Pasir Putih. Pantai ini sepi sekali. Padahal area pantai ini luas dan panjang. Bisa saya bilang pantai ini adalah pantai yang masih perawan dan berpasir putih. Dengan tebing besar di tepi pantai, kita bisa merasakan hempasan ombak pantai yang datang silih berganti. Tapi, ombak di pantai ini cukup besar dan alangkah baiknya lebih berhati-hati selama bermain di tepian pantai ini. Untuk menjangkau pantai ini, saya bisa berjalan sekitar 30 menitan dengan melalui jalanan kecil yang melintasi hutan kecil. Sang pemilik penginapan bilang, beberapa tahun yang lalu masyarakat di sana masih bisa menjumpai gajah liar di sekitar hutan itu. Tapi, saat ini sudah tidak bisa. Mereka tak lagi ada.

Jalan menuju Pantai Pasir Putih.

Keindahan Pantai Pasir Putih.

Dua hari saya dan keluarga habiskan untuk berlibur di Kiluan. Meskipun segalanya serba terbatas di sana, tapi kami senang. Beruntung kami hanya mendapati hujan sekali ketika hari pertama kami datang. Karena Teluk Kiluan ini merupakan teluk tropis, merupakan tempat wisata bahari, dan kondisi jalanan menuju tempat ini juga belum baik, serta topografinya berbukit dan berlembah, alangkah baiknya untuk datang ke sana di musim kemarau. Jangan lupa juga untuk mempersiapkan segalanya, seperti perlengkapan mandi, makanan, air bersih, obat-obatan, dan pemesanan penginapan sebelum ke sana. Kabar baik pun saya dengar beberapa waktu lalu bahwa kini pemerintah daerah setempat sedang berupaya untuk memperbaiki jalanan menuju Kiluan agar semua orang lebih mudah dan merasa lebih nyaman untuk mengunjunginya.

Bagi saya, Kiluan itu bagaikan surga alam Indonesia yang tersembunyi yang wajib didatangi. Tempat yang dengan segala keterbatasannya tetap mampu memikat siapa saja yang datang ke sana. Keramahan masyarakatnya dan kesederhanaannya mampu membawa hati dan perasaan kita sejenak beristirahat dari hingar bingar kota besar. Saya pun dapat berefleksi selama di sana. Bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, kita sebenarnya masih mampu terus hidup dengan segala kebaikan dan kualitas yang dimiliki dari dalam diri kita. Seperi Kiluan yang selalu indah diingat sepanjang waktu.

(Resty Amalia)

Daun yang gugur di Pulau Kiluan.

( Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com #MenikmatiHidup #TiketBaliGratis )


2 comments:

Chalimi Fithratu said...

Malam hari gelapnya benar2 pekat.. Dolphin-nya lucuu :D Mampir juga di blogku ya, aku menulis pengalaman mendaki gunung bromo bersama teman-teman TF-SCALE dari Indonesia & Singapura ^^
chalwoo

Resty Amalia said...

Iyaaa.... berkesan sekali selama di sana. Makasih sudah mampir ke sini. Salam kenal. Sip.... kebetulan aku juga sudah baca tulisanmu. Seru! ;-)

Find Me on Instagram