Sebuah Apologia Beringin Tua

                                                          Sebuah Apologia Beringin Tua
                                                                       Resty Amalia

Gambar diambil cari www.joecurren.com

Sekumpulan warga desa sering datang mengunjungiku di malam Jumat dengan puluhan sesaji. Membawa harap dan doa akan hal baik bagi hidup mereka. Tak jarang orang percaya dan juga memujiku akan membawa kebaikan bagi hidup mereka. Sering kali, banyak warga yang duduk berdiam diri di sisiku. Bertapa selama bermalam-malam dengan perbagai macam harapan. Ternyata, selain karena rindang daunnya dan kuat akarnya, beginilah hidupku. Tak hanya menjadi tempat berteduh dan bermain, melainkan membawa harapan bagi warga desa. Yang tak jarang juga tak masuk akal.

Jiwa ini sudah ada bersama batang besar dan daun rindang selama hampir satu abad. Berdiri tegak di salah satu hamparan tanah yang ditumbuhi rumput lebat di pinggiran desa. Dengan akar yang makin besar dan kuat, batangku pun makin meninggi. Orang bilang, semakin besar aku, semakin besar pulalah daya magisku. Semua percaya bahwa aku memiliki kekuatan, membawa keberuntungan, dan angker. Tak kutahu kebenarannya sampai saat ini. Yang kutahu, aku hanya sebuah beringin yang makin menua dengan banyak kenangan akan semua warga dan semua kejadian yang ada di desa.

Aku mengalami masa di mana negeri ini masih dijajah bangsa lain dan belum merdeka, menyaksikan para warga memiliki keturunan dan kemudian berganti generasi, serta orang yang silih berganti datang dan kemudian meninggalkan desa. Memori itu melekat baik di sebatang pohon beringin tua yang kian hari nampak makin kuat, tapi sebenarnya melemah karena usia.

                                                                                   ***

Ada masa di mana masyarakat desa mulai mengenal hal-hal baru yang mampu mengembangkan kehidupan dan desa mereka. Teknologi masuk desa, pemikiran masyarakat desa mulai berubah dan berkembang, pendidikan mereka makin baik, dan gaya hidup mereka pun bertransformasi. Kini, makin banyak orang yang meninggalkan desa untuk mencari penghidupan dan masa depan yang lebih baik. Tanah-tanah pun diisi dengan bangunan-bangunan milik penduduk, seperti tempat usaha maupun pemukiman penduduk.

Sebuah kabar kudengar bahwa hamparan rumput yang kutinggali selama ini akan dijadikan pemukiman penduduk. Semula aku bahagia karena aku tak lagi sendiri. Tapi, ketika mengetahui bahwa aku pun harus rela pergi, aku beringsut membiru. Menyadari bahwa kepergianku bukan kepergian sementara, melainkan abadi dan selamanya. Akarku yang menua dan terus merayap menjejak bumi dianggap tak membuat nyaman warga desa. Aku sadar bahwa aku sudah menjadi saksi berubahnya zaman. Kini masyarakat desa tak lagi sama. Mereka tak lagi menjadikanku istimewa dengan sesaji dan pemujaan yang berpuluh-puluh tahun lalu mereka lakukan padaku. Rasa sayang itu terasa memudar dan tak lagi meliputi perasaan.

Hingga akhirnya aku melihat serombongan orang membawa pelbagai macam peralatan tajam di suatu pagi yang mendung. Mereka terlihat bercakap sejenak dan layaknya memandangku dengan penuh iba. Tanpa mengucap doa, ijin, dan salam perpisahan, aku ditebas. Jiwaku hilang dan meninggalkan desa. Meninggalkannya dan pergi bersama berjuta-juta kenangan akan kejadian selama hampir seratus tahun terakhir. Selamat tinggal, dunia.

                                                                                   ***
Tapi, ada senyum di sela kesedihanku. Aku masih sempat melihat jajaran beringin muda dan belia hadir sebelum kepergianku. Walaupun bukan di lahan yang sama, tapi mereka ditanam di banyak tempat di sekeliling desa. Mereka menggantikan aku yang semula seorang diri tumbuh dan hidup di desa. Memberi nafas kehidupan baru bagi masyarakat desa yang dikenal kering dan sulit mendapatkan sumber air. Sumber air yang semula hanya ada di sekitaranku kuharap hadir lebih banyak di setiap sudut desa. Dengan kehadiran jiwa yang baru, kebahagian dan kesejahteraan baru pun diharapkan hadir menggenapi rasa yang terasa janggal ini. Rasa di antara sedih dan senang. Rapalan doaku pun kuucapkan di sela segala rasa.

Pada akhirnya ini bagaikan sebuah apologia. Akan sebuah rasa kehilangan jiwa dan sesal karena tak lagi bisa menjadi salah satu sumber penghidupan jiwa-jiwa yang selama ini kuhidupi. Sebuah apologia yang disematkan di sela selamat tinggal, doa, dan harapan. Agar warga desa makin sejahtera dengan lebih banyak ‘aku’ di sana. Karena lebih dari satu memang melengkapi.


#SastraHijau #GreenWriting #LaskarPenaHijau

2 comments:

Wahyu Bukanrastaman said...

indah sekali cerita sang beringin

Resty Amalia said...

Terima kasih sudah membaca dan menyukai kisah ini :)

Find Me on Instagram