Saturday, May 13, 2017

Review Film Critical Eleven: Mengenang Rasa Kehilangan dan Belajar Proses Penulisan Skenarionya Langsung dari Jenny Jusuf

Share it Please

Semalam saya menonton film Critical Eleven yang baru tayang tanggal 10 Mei 2017. Jujur, saya bukan pembaca setia semua buku Ika Natassa. Saya baca beberapa, termasuk novel Critical Eleven. Hal yang membuat saya ingin menonton dan memang mewajibkan menonton film ini adalah orang-orang yang ada di film ini, dari aktor, sutradara, penulis skenario, dan juga soundtracknya yang saya tahu semuanya punya kualitas bagus. Dengan orang-orang yang berkualitas yang berperan dan menggarap film ini, saya rasa film ini layak sekali saya tonton.


Kesan mendalam tentang film Critical Eleven

photo credit: bookmyshow

Yang saya senang dari film ini adalah acting para aktornya. Buat saya kualitas acting Asti (Adinia Wirasti) dan Reza Rahadian keren sekali. Chemistry mereka kuat sekali sebagai sepasang suami istri yang sangat penuh cinta satu sama lain. Film ini saya bilang jadi salah satu film Indonesia yang cukup banyak dan intens memperlihatkan adegan ciuman. Jadi, chemistry suami istri yang mesra pun makin tergambar jelas di film ini. Pastikan nggak bawa anak kecil ya ketika menonton film ini. Acting Slamet Rahardjo dan Widyawati pun keren. Jelas, acting mereka sudah tidak perlu diragukan lagi lah ya. I'm a big fan of them.

Ada dua bagian yang buat saya nangis karena buat saya emosi para aktornya ngena sekali. Yang pertama, bagian di mana ketika Anya melahirkan bayinya, ditemani Ale di sampingnya. Yang kedua, adalah ketika Widyawati yang berperan sebagai mertua Anya bicara dari hati ke hati berdua dengan Anya, membicarakan tentang pernikahan dan rasa kehilangan. Acting para aktornya di bagian ini buat saya super keren, dalam, dan ngena banget. Aduh, jangan sampai keterusan. Saya takut jadinya spoiler! Hehehe....

Salah satu setting yang ada di New York pun jadi poin plus film ini. Bisa dibayangkan selain sinematografi yang oke, kamu bisa lihat pemandangan-pemandangan indahnya New York. Mata dimanjakan sekali sih.


Mengenang rasa kehilangan

photo credit: bookmyshow

Beberapa teman yang sudah nonton film ini bercerita bahwa mereka nggak terlalu kena emosinya karena mereka merasa hal-hal yang terjadi di film adalah hal-hal yang terjadi dalam pernikahan, sementara mereka belum menikah. Atau ada juga yang merasa bahwa nggak terlalu relate dengan kesedihan atau persoalan yang terjadi karena mereka belum pernah mengalaminya. 

Namun, saya sebaliknya. Buat saya, emosi yang disajikan dalam film ini buat saya nyata sekali. Alasannya ada dua. Yang pertama, saya punya sahabat kecil yang megalami hal serupa. Kehilangan di saat sedang bahagia-bahagianya menyambut kedatangan yang sudah ditunggu-tunggu. Reaksi, emosi, dan apa yang terjadi setelah kehilangan tersebut sama seperti yang diperlihatkan di film. Ia bahkan mengalami depresi. Jadi, saya kembali mengingat kesedihan seorang kawan lama saya itu. Kini, saya jadi tahu lebih bagaimana kesedihannya pada saat itu karena jujur ketika sahabat saya mengalami kehilangan itu, saya tidak berpikir jauh bahwa dia akan sesedih itu.

Yang kedua, saya mengalaminya sendiri ketika saya kehilangan mama saya sendiri. Walaupun jenis kehilangannya beda, namun reaksi dan emosinya sama. Bisa saja saya tiba-tiba menangis ketika menemui hal-hal yang mengingatkan saya akan almarhumah mama (misalnya sesimple, mendengar lagu tentang ibu) atau bahkan menangis tiba-tiba tanpa sebab (ini terjadi setelah beberapa hari sampai setahunan mama saya pergi untuk selamanya). Perbedaan cara menyikapi kehilangan Ale dan Anya pun mengingatkan bagaimana saya dan papa saya juga punya perbedaan itu. Dan saya rasa manusiawi bahwa laki-laki dan perempuan pastilah beda dalam menyikapi rasa kehilangan.

Buat saya, melihat tiap bagian di film yang menunjukkan rasa kehilangan membuat saya kembali mengingat rasa kehilangan di masa-masa remaja saya. Penggambaran yang ada di film buat saya sangat mewakili dan sangat menggambarkan keadaan manusia yang pada umumnya mengalami hal tersebut.


Yang agak mengganjal dari film ini

photo credit: bookmyshow

Film ini berdurasi cukup panjang, yaitu 135 menit. Ditambah lagi, konfliknya juga cukup banyak tarik ulur. Ada momen di mana saya pikir cerita akan segera diakhiri, eh, ternyata masih lanjut. Dengan jalan cerita yang drama abis, bagi yang bukan penikmat drama sejati mungkin akan agak bosan. Kalau saya sih betah-betah saja nonton film drama yang emosinya tarik ulur dan bikin mewek. Secara anaknya drama abis. Hehehe.... 

Yang penting, siapkan tisu dan pastikan nggak over minumnya karena bisa jadi bolak-balik toilet buat buang air kecil. Akan nggak asyik kan kalau nonton skip-skip begitu? Over all, suka sih sama filmnya. Buat penggemar drama, suka lah sama film ini.



Kisah proses penulisan skenario film Critical Eleven oleh Jenny Jusuf

Dokumen pribadi, lunch time dan ngobrol seru after event. Dari kiri belakang: Mba Resita, Mba Emi, Reza Pahlevi. Dari kiri depan: Jenny Jusuf, saya.

Beruntungnya, di bulan April kemarin saya dan tim mengundang sang penulis skenario, Jenny Jusuf, ke acara komunitas kami, Trivia Writers Club. Jadilah saya sempat banyak ngobrol dengan Jenny, termasuk tentang proses ia menulis skenario dan proses pembuatan film Critical Eleven. Jenny dalam obrolan kami bercerita bahwa proses yang dilakukannya cukup panjang dalam menulis skenario film ini. Ia pun sadar bahwa filmnya nanti pasti akan dibanding-bandingkan dengan novelnya. Tapi, ia sudah berusaha semaksimal mungkin mentransfer cerita dalam sebuah naskah film dan menjadikannya pas dinikmati dalam sebuah film, tanpa mengurangi poin penting dalam film.

Ia pastinya tak bisa memuaskan hati dan ekspektasi semua orang kan? Nggak mungkin juga semua detail yang ada di novel dimunculkan dalam sebuah film. Nggak akan cukup waktunya juga pastinya. Padahal satu film sudah pasti ada durasi maksimal yang sudah ditentukan (hasil pertimbangan biaya produksi dan juga kenyamanan penonton).

Buat saya, Jenny sukses menghadirkan cerita yang realistis dan enak dinikmati dalam sebuah film. Dari Jenny, saya belajar beberapa hal. Yang pertama, saya belajar darinya untuk fokus terhadap apa yang dilakukan tanpa banyak mendengar komentar banyak orang. Pusing juga kalau maunya memuaskan semua orang dan inginnya semua orang suka karya kita. Kita harus percaya bahwa setiap karya itu punya penikmatnya masing-masing. Pasti akan ada yang suka dan tidak suka.

Lalu, saya juga belajar dari Jenny untuk menaruh hati kita ketika menulis. Ini bukan kalimat pertama yang saya dengar langsung dari Jenny. Di pertemuan pertama dengan Jenny beberapa tahun lalu pun, ia mengatakan kalimat serupa. Ketika menulis skenario film Filosofi Kopi, di bagian Ben mengenang masa kecilnya di sebuah kebun kopi, Jenny membutuhkan waktu yang lama untuk menciptakan momen itu. Ia butuh waktu lama untuk menyendiri, berkeliling di sebuah kebun kopi, dan juga menempatkan diri sebagai karakter yang sedang ditulis. Di kala itu, ia benar-benar menangis sesak mendalami cerita yang ada di kepalanya. Kemudian, barulah ia menulis adegan tersebut. Adegan tersebut pun jadi salah satu bagian di film Filosofi Kopi yang penuh emosional dan pastinya membuat penontonnya menangis. Terbuktilah, sebuah karya yang diciptakan dengan hati pasti akan bisa ditangkap sepenuh hati juga oleh penontonnya. Memainkan perasaan penontonnya tentunya.

Proses yang sama pun dilakukan Jenny pada film Critical Eleven. Ia bercerita bahwa ia mendalami sekali rasa kehilangan yang dialami Anya ketika menulis skenario film ini. Bahkan ia berusaha menyelami hati seorang Anya dan sampai menangis ketika menulis bagian ketika Anya melahirkan. Ia sampai tidak mau melihat langsung proses shooting bagian tersebut karena pasti tidak bisa menahan emosinya. Terbukti ketika saya melihat bagian ini di film, emosinya pun kuat sekali dan pastinya membuat saya dan seisi bioskop sesenggukan.

photo credit: wowkeren

Selamat, Jenny karena sudah berhasil menyajikan kisah ini dengan lebih realistis. Karena jujur, saya agak sulit membayangkan dapat menemukan seorang Ale dalam novel ada di dunia nyata (dalam hal sesabar itu menyikapi permasalahan yang ada). Hehehe.... Ini hanya opini saya sebagai penikmat kisahnya.

Tapi, lagi-lagi saya memilih untuk tidak membandingkan kisah dalam buku dan film. Karena buat saya visualisasinya pasti akan berbeda. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam menyajikan kisah dalam novel untuk menjadi sebuah film. Dipastikan tidak mungkin untuk menyajikan semua detail yang ada di novel dalam film. Tiap orang juga pastinya punya imajinasi yang berbeda-beda tentang tokoh dan jalan cerita ketika membaca sebuah novel. Jadilah sebuah film hasil adaptasi dari novel seperti ini tercipta dari sudut pandang para pembuat filmnya tanpa mengubah poin inti kisahnya. Sepertinya akan lebih nikmat jika kita bisa menikmati novel dan filmnya dengan caranya masing-masing. 

Pada akhirnya saya menyimpulkan, film ini layak dinikmati dan dijadikan bahan belajar juga untuk kita semua bahwa hidup itu ada pasang surutnya. Ada kalanya kita senang, sedih; percaya, kecewa; dan pastinya ada ujiannya masing-masing. Dan pastinya, tiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi kehilangan dan tak akan mungkin sama. Waktu yang dapat menyembuhkan luka. Perlahan-lahan. Bahagia pun akan datang setelahnya, menyusul di saatnya ia memang harus tiba.





5 comments:

Rach Alida Bahaweres said...

Aktingnya Reza Rahardian di film manapun selalu saja bagus. Pertama kali tahu judul film ini aku mengira film luar negeri, teryata dalam negeri yang terinspirasi dari novel ya mba. Traillernya sudah membuat saya tak sabar untuk menonton. Terima kasih reviewnya mba

Resty Amalia said...

Hai, thanks juga sudah membaca reviewnya mba. Semoga dapat gambaran sebelum menonton filmnya.

Iyaa, betul banget. Reza memang born to be actor, the real actor. Dia bisa dalam sekejap merubah karakter, emosi, dan mood kalau lagi berakting. Selalu total!

Selamat menonton! :)

Roma Pakpahan said...

Jadi makin penasaran pingin nonton 😍😍😍

Qiqi Nur Indah Sari said...

aku jadi pingin nonton baca reviewnya mba Res :))

Resty Amalia said...

@Roma Pakpahan, @Qiqi, nonton dong :)

Followers

Subscribe & Follow

Follow The Author