Pesona Mirak Div di Jazz Buzz Salihara 2018

Rangkaian Jazz Buzz Salihara 2018 di minggu kedua (24/02/2018) diramaikan oleh kolaborasi dua musisi yang sudah dikenal dan malang-melintang di dunia musik Indonesia. Mirak Div yang merupakan sebuah kolaborasi antara Adra Karim dan John Navid pun meramaikan malam Minggu para penikmat musik yang hadir.
photo credit: Komunitas Salihara
Adra Karim dikenal sebagai pianis, keyboardist, dosen, arranger, komposer dan produser. Ia aktif mengajar di Institut Musik Daya Indonesia, bermusik bersama Tomorrow People Ensemble, serta kerap berkolaborasi dengan musisi, grup band dan orkestra. Ia pun rutin mencari bakat dan mengasuh para musisi muda. Sebagai lulusan jurusan Jazz Organ di ArtEz Academy of Music, Enschede dan Prince Claus Conservatorium, Groningan, Belanda, ia pernah berkolaborasi dengan banyak musisi dunia dan memiliki ilmu yang mumpuni untuk dibagikan kepada musisi generasi penerusnya. Sedangkan John Navid, yang dikenal sebagai drumer White Shoes and The Couple Company, merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta. Ia pernah bermain musik di beberapa festival dunia, seperti Viva Victoria Festival, Australia; Noise Market, Thailand; dan Modern Sky, Helsinki. Kini, ia aktif mengajar drum dan perkusi di Sekolah Internasional Jerman.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah bentuk kolaborasi sudah terpikirkan oleh kedua musisi ini. Keduanya mengaku sudah memikirkan dan mempersiapkan proyek bersama ini sejak lama. Kolaborasi tersebut lahir dengan nama “Mirak Div” dan dapat dinikmati oleh penikmat musik. Pada penampilan mereka di Jazz Buzz Salihara 2018, Adra Karim banyak bereksplorasi dengan keyboard, Hammond organ, piano, dan synthesizer. Sedangkan John Navid, banyak bereksplorasi dengan drum, perkusi, dan perlengkapan lain.
photo credit: Komunitas Salihara
Yang unik dari penampilan ini adalah kedua musisi menggabungkan alat musik konvensional dengan alat rumah tangga sehari-hari, seperti, baskom, sepeda, mesin ketik, bola ping pong, mainan karet, lakban, dan lain-lain. Alat-alat rumah tangga ini dimainkan beriringan dan sahut-menyahut dengan alat musik konvensional. Semuanya bertemu dan bersatu-padu menghasilkan musik yang unik dan mungkin baru untuk sebagian orang yang datang.  Komposisi yang mereka mainkan jauh dari kata biasa dan mainstream. Musik mereka menghadirkan suasana dan pengalaman baru bagi siapa saja yang datang.

Mereka seperti menunjukkan kepada penikmat musik yang datang bahwa benda-benda sepele yang banyak ditemukan di sekitar kita, yang bukan merupakan alat musik, ternyata menghasilkan bebunyian yang kemudian bisa dinikmati sebagai karya seni musik. Repertoar yang mereka bawakan merupakan hasil eksplorasi dan improvisasi bebunyian, baik yang terstruktur dan tidak terstruktur. Semuanya menyatu dan menghasilkan komposisi-komposisi musik dan bercerita.
photo credit: Komunitas Salihara
Meskipun beberapa komposisi disajikan dengan tidak terstruktur, namun musik-musik tersebut membangun suasana dan tetap bisa menyampaikan pesan. Misalnya saja, di repertoar pembuka “Pusara Nada”, mereka seperti mengeksplorasi bebunyian tidak biasa dari synthesizer dan keyboard yang Adra Karim mainkan, serta beberapa alat rumah tangga yang dimainkan oleh John Navid. Di permulaan, mereka layaknya saling mengeksplorasi dan berimprovisasi sendiri-sendiri dengan alat yang ada di genggaman mereka. Namun, semuanya bisa perlahan bertemu dan menyatu di detik-detik menjelang akhir komposisi tersebut.
photo credit: Komunitas Salihara
Dalam komposisi yang berjudul “Jakarta”, suasana makin hidup ketika visualisasi akan keadaan Jakarta hadir dalam layar panggung. Suara kayuhan sepeda dan deru mesin kendaraan yang dihadirkan oleh John Navid pun semakin menghidupkan suasana dan menggambarkan rasa kehidupan Jakarta yang riuh dan sesak. Begitu pula dengan komposisi “Bajaj Air” dan “Ruang di Antara”. Dari komposisi awal sampai komposisi keempat, mereka seperti layaknya tak memberikan jeda kepada penonton untuk berpaling. Mereka seperti sengaja untuk menyajikan musik-musik eksplorasi dan improvisasi mereka yang penuh dengan keabsurdan dan ketegangan. Semuanya selaras dengan pola kehidupan manusia di dunia yang penuh dengan segala hal absurd, tak terduga, dan tak luput dari banyak bentuk ketegangan.
photo credit: Komunitas Salihara
Di komposisi berikutnya, dengan judul “Ngip-Ngop”, eksplorasi dan improvisasi banyak dilakukan baik oleh Adra Karim maupun John Navid. Bebunyian tak beraturan hadir memenuhi Teater Salihara. John Navid berkali-kali melemparkan banyak bola ping pong ke perangkat drum miliknya. Begitu pun dengan Adra Karim yang melakukan eksplorasi dengan menaruh sesuatu di senar pianonya. Kedua musisi ini saling beradu dan sahut-menyahut dalam memainkan musiknya. Hingga keduanya saling menyambut dan berjalan selaras di bagian klimaks sampai akhir.
photo credit: Komunitas Salihara
Di komposisi “Bercakap Sejenak” dan “Tiga dari Lima”, Adra Karim beberapa kali selama beberapa detik menampilkan sisi manis bunyi piano maupun organnya. Bebunyian manis dari instrumen yang dimainkannya kembali disahut dengan nada-nada tak biasa. Hal tersebut hadir berkali-kali seperti tak membiarkan para penikmat terlalu lama dan terlena dengan musik manis yang biasa hadir di banyak pertunjukan musik. Meskipun hanya sedikit rasa manis yang hadir, namun tetap membuat para penikmat jatuh hati dan larut dalam musik yang dihadirkan.
photo credit: Komunitas Salihara
Pertunjukan mereka menghadirkan emosi yang kaya. Seperti hal yang memang diusung oleh Jazz Buzz Salihara 2018, yaitu “Jazz Tanpa Batas”, musik-musik yang dihadirkan pun tak biasa dan tanpa batas. Baik Adra Karim maupun John Navid, menyentuh sisi-sisi yang seringkali tak dinikmati dan tak dikenal oleh banyak penikmat musik. Mereka menyuguhkan bebunyian di batas-batas yang masih dirasa asing oleh banyak sebagian orang, membuatnya kenal dan lekat di telinga pendengar, hingga akhirnya membuat suka dan jatuh cinta.


Artikel tulisan saya ini telah dimuat di website Komunitas Salihara (salihara.org).


No comments:

Find Me on Instagram